Rabu, 23 Juni 2010

SOSIOLOGI PENDIDIKAN Drs. H. Abu Ahmadi

1. Arti Sosiologi Pendidikan
Sosiologi pendidikan dan psikologi pendidikan mempunyai peranan yang komplementer bagi pemikiran pendidikan. Tugas pendidikan menurut sosiologi adalah memelihara kehidupan dan mendorong kemajuan masyarakat. Pada umumnya kaum pendidik dewasa ini memandang tujuan akhir pendidikan lebih bersifat sosiolistis dari pada individualistis.
Apakah sosiologi pendidikan itu ?
Menurut H.P. Fairchil dalam bukunya “ Dicitionary Sociology “ di katakana bahwa : Sosiologi pendidikan adalah sosiologi yang diteteapkan untuk memecahkan masalah – masalah pendidikan yang fundamental.
Sosiologi pendidikan adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki antara sosiologi pendidikan.
Sosiologi sebagai ilmu pengetahuan memiliki lapangan penyelidikan, sudut pendang, metode, dan susuanan pengetahuan obyek penelitian sosiologi adalah tingkah laku manusia dalam kelompok. Sudut pandangannya ialah memandang hakikat masyarakat kebudayaan, dan individu secara ilmiah. Sedangakan susunan pengetahuan dalam sosiologi terdiri atas konsep – konsep dan prinsip – prinsip mengenai kehidupan kelompok sosial, kebudayaannnya dan perkembangan pribadi. Salah satu ini yang mendapat perhatian sosiologi ialah penelitian mengenai tata sosial.
Jadi sosiologi pendidikan merupakan salah satu sosiologi khusus. Menurut F.G. Robbins, sosiologi pendidikan adalah sosiologi khusus yang tugasnya termasuk dalam pengertian struktur ini ialah teori dan filsafat pendidikan, system kebudayaan, struktur kepribadian dan hubungan kesemuanya itu dengan tata sosial masyarakat.
Sedangkan yang dimaksuf dengan dinamika, ialah proses sosial cultural, proses perkembangan kepribadian dan hubungan semuanya itu dengan pendidikan.

2. Konsepsi dan Posisi Sosiologi Pendidikan.
Menurut perkembangan sejarah, manusia itu tidak pernah berhenti dari kesibukannya, baik kesibukan dalam menghadapi dunia luar atau lingkungan sekitar maupun diri manusia itu sendiri.

Kesibukan – kesibukan pekerjaan – pekerjaan dan sebagainya mempunyai hubungan timbal balik satu sama lain, misalnya kesibukan di perusahaan, buruh rajin dan sibuk bekerja agar produksi perusahaan dapat berlipat ganda, dapat diperdagangkan kepada langganan – langganan dan masyarakat.
Yang semuanya itu mempunyai tujuan untuk memenugi kebutuhan manusia, baik secara perseorangan maupun secara kelompok atau sosial. Pemenuhan – pemenuhan kebutuhan mana tidak dilakaukan oleh diri sendiri tetapi oleh adanya kerja sama di antara manusia di dalam masyarakat. Pusat atau kesibukan manusia itu adalah manuisa di dalam itu sendiri yang dimanifestasikan di dalam tingkah lakunya, baik tingkah laku yang terlihat maupun tingkah laku yang tidak nampak oleh mata.
Manusia, dengan segala tingkah laku di dalam mengadapai lingkungan sekitarnya menimbulkan usaha – usaha untuk mengetahui dan akhirnya memanipulasikan lingkungan sekitar manusia untuk memenuhi kebutuhannya. Misalnya, tingkah laku manusia dalam memanipulasikan tanah dengan berbagai ramuan dapat membuat batu merah, dan dari batu merah biji logam besi dapat dibuat beraneka ragam alat – alat perlengkapan. Dari sini kelihatanlah bahwa manusia ingin tahu kepada lingkungan sekitarnya, ingin menguasainya dan akhirnya ingin mempergunakannya. Kegiatan manusia di dalam mengetahui, menguasai dan memakai alam sekitarnya telah menimbulkan berbagai cabang ilmu pengetahuan teknik samapi dewasa ini meningkat pada teknologi nuclear serta mendapat di bulan, dan masih berkembang terus.

3. Definisi Sosiologi Pendidikan
Ditinjau dari segi etomologinya istilah sosiologi pendidikan terdiri atas dua perkataan yaitu sosiologi dan pendidikan. Maka sepintas saja telah jelas bahwa di dalam sosiologi pendidikan itu yang menjadi masalah sentralnya ialah aspek – aspek sosiologi di dalam pendidikan. Mengapa di dalam pendidikan terdapat aspek – aspek sosiologi, yah oleh karena situasi pendidikan adalah situasi hubungan dan pergaulan sosial, yaitu hubungan dan pegaulan sosial antara pendidikan dengan anak didik pendidik dengan pendidik, anak – anak dengan anak – anak pegawai dengan pendidkan, pegawai –pegawai dan anak –anak. Hubungan – hubungan dan pergaulan – pergaualan sosial ini secara totalitas, merupakan suatu unit keluarga, ialah keluarga sekolah, keluarga sekolah mana terdapat tumbuh dan berkemabng di dalam masyarakat.
Maka jelaslah di dalam sosiologi pendidikan itu akan berlaku dan berkerjasama antara prinsip – prinsip sosiologi dan prinsip – prinsip paedagogis berserta ilmu – ilmu bantuannya, misalnya psikologika ( ilmu psikologi pendidikan ).
E.George Pyne, yang bolehlah disebut bapak dari pad sosiologi pendidikan seperti halnya A. Comte sebagai bapak dari pada sosiologi. Disini Payne menekankan, bahwa di dalam lembaga – lembaga, kelompok – kelompok sosial, proses sosial, terdapatlah apa yang dinamakan social relationship, hubungan – hubungan sosial ataupun secaara tehnis disebut interaksi sosial, dimana di dalam dan dengan interaksi sosial ini individu memeperoleh dan mengorganir pengalaman – pengalamannya. Inilah yang merupakan aspek – aspek ata u prinsip – prinsip sosiologinya.
Jadi bukan saja pada anak – anak tetapi juga pada orang – orang dewasa, kelompok –kelompok sosila, bahkan pada proses sosial pun bahwa interaksi sosial itu yang membentuk tingkah laku manusia secara tertentu dianggap sebagai system pendidikan yang berkembang terus. Artinya setiap kali didapati kondisi dan situasi baru harus ada interaksi sosial yang baru dan seolah – olah individu – individu itu belajar berinteraksi sosial. Inilah yang merupakan prinsip – prinsip paedagoginya.
Charls A. Ellwood : Sosiologi pendidikan adalah ilmu pengetahuan yang mempelajarai / menuju untuk melahirkan maksud hubungan – hubungan antara semua poko – pokok masalah antara proses pendidikan dan proses sosial.
Dr. Ellwood : Sosiologi Pendidikan adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang proses belajar dan mempelajari antara orang yang satu dengan orang yang lain.
E.B. Reuter : Sosiologi Pendidikan mempunyai kewajiban untuk menganalisa evaluasi dari lembaga – lembaga pendidikan dalam hubungan nya dengan perkembangan manusia dan dibatasi oleh pengaruh – pengaruh dari lembaga pendidikan yang menentukan kepribadian sosial dari tiap – tiap individu.
W. Dodsen : Mengatakan bahwa sosiologi pendidikan itu mempersoalkan pertemuan dan percampuran dari pada lingkungan sekitar kebudayaan secara totalitas, di mana dalam dan dengan begitu maka terbentuklah tingkah laku, dan sekolah dianggap sebagai dari pada total cultural milien, sedangkan sosiologi pendidikan memperbincangkan dan berusaha menemukan bagaimana memanipulasikan proses pendidikan untuk mengembangkan kepribadian.
Sosiologi Pendidikan adalah suatu cabang ilmu pengetahuan ( dari ilmu jiwa pendidikan ) yang membahas proses interaksi sosial anak - anak mulai dari keluarga, masa sekolah sampai dewasa serta dengan kondisi - kondisi sosio cultural yang terdapat di dalam masyarakat dan Negaranya.
Atau secara sinbgkat sosiologi pendidikan ialah tinjauan sosiologinya terhadap proses pendidikan dan pengajaran.

Untuk mendapatkan gambaran yang kongkrit mengenai tujuan sosiologi pendidikan George S. Herrington mengemukakan lima macam tujuan dari pada sosiologi pendidikan ialah :
1. To Understand the role of the reacher in the community and the school as an instrument of social progress and social factors affecting school.
2. To understand the democratic ideologies, our culture and economic and social trends in relation to both formal and informal educational agencies.
3. To understand social forces and their effects upon individuals
4. To socialize the curriculum, and
5. To use techniques of research and critical rhinking to achieve these aims.

Adpun tujuan dari pada sosiologi pendidikan di Indonesia ialah :
1. Berusaha memahami peranan sosiologi dari pada kegiatan sekolah terhadap masyarakat, terutama apabila sekolah ditinjau dari segi kegiatan interaksi. Dus dengan begitu sekolah harus bisa menjadi suri tauladan di dalam masyarakat sekitarnya dan lebih luas lagi, atau dengan singkat mengadakan sosialosasi intelektual untuk memajukan kehidupan di dalam masyarakat.
2. Untuk memahami seberapa jauhkah guru dapat membina kegiatan sosial anak didiknya untuk mengembangkan kepribadian anak.
3. Untuk mengetahui pembinaan ideology Pancasila dan kebudayaan nasional Indonesia di lingkungan pendidikan dan pengajaran.
4. Untuk mengadakan integrasi kurikulum pendidikan dengan masyarakat sekitarnya agar supaya pendidikan mempunyai kegunaan praktis di dalam masyarakat dan Negara seluruhnya.
5. Untuk menyelidiki factor – factor kekuatan masyarakat bisa menstimulir pertumbuhan dan perkembangan kepribadian anak.
6. Memberi sumbangan yang positif terhadap perkembangan pendidikan.
7. Memberi pegangan terhadap penggunaan prinsip – prinsip untuk mengadakan sosiologi sikap dan kepribadian anak didik.

4. Latar Belakang Timbulnya Sosiologi Pendidikan
Perubahan sosial yang cepat itu meliputi berbagai bidang kehidupan dan merupakan masalah bagi semua institusi sosial, seperti industry, agama, perekonomian, pemerintahan, keluarga, perkumpulan dan pendidikan. Masalah sosial dalam masyarakat itu juga dirasakan oleh dunia pendidikan.

Dapat disimpulkan bahwa :
1. Pada abad ke-20. Sosiologi mempunyai peranan penting dalam pemikiran pendidikan. Sebagai akibatnya timbullah sosiologi pendidikan.
2. a. Dalam buku “ Dicitionary Of Sociology “ disebutkan bahwa : sosiologi pendidikan adalah sosiologi yang diterapkan untuk memecahkan masalah – masalah pendidikan yang fundamental
b. Menurut F.G Robbins Sosiologi Pendidikan adalah sosiologi khusus yang tugasnya menyelidiki struktur dan dinamika proses pendidikan. dll
3. Latar belakang timbulnya sosiologi pendidikan dapat diterangkan sebagai berikut : masyarakat mengalami perubahan sosial yang cepat. Perubahan sosial itu menimbulkan cultural ;ag. Cul;tural lag ini merupakan sumber masalah – masalah sosial dalam masyarakat . masalah – masalah sosial itu dialami dunia pendidikan, lembaga – lemabaga pendidikan tidak mampu mengatasinya. Kemudian ahli – ahli sosiologi menyumbangkan pemikiran – pemikirannya untuk memecahkan masalahg itu, maka lahirlah sosiologi pendidikan.
4. Salah satu fungsi sosiologiu pendidikan di Indonesia, ialah menetapkan Pancasila sebagai universal ( corevalues ) yang menjadi dasar integrasi nasional.

5. Educatioanl Sosiologiy dan sociology Of Education
Definisi dari stalcup mengenai ketiga istilah dimaksud sebagai berikut :
a. Educational Sosiology : Merupakan aplikasi prinsip – prinsip umum dan penemuan – penemuan sosiologibagi pengadministrasian dan atau proses pendidikan. Pendekatan ini berupaya untuk menerapkan prinsip – prinsip sosiologi pada lembaga pendidikan sebagai suatu unit sosial tersendiri.
b. Sociology Of Education : Merupakan suatu analisis terhadap proses – proses sosiologi yang berlangsung dalam lembaga pendidikan. Tekanan dan wilayah telahannya pada lembaga pendidikan itu sendiri
c. Socoa; Fundation Of Education : Merupakan suatu bidang telaahan yang lazimnya mencakup sejarah, filsafat, sosiologi pendidikan dan pendidikan komprasi. Jelas bidang ini lebih luas baik dari “ Sosiology Of Education ? maupun ? Educatioanl Sosiology “

6. Kajian Sosiologi Of Education
Perlu diketahui, keangka umum sosiologi pendidikan ( Sosiology Of Education ). Sebenarnya bukanlah barang baru. Beberapa tahun yang lalu, Angell telah memberikan suatu definisi sahheh dan berguna mengenai bidang ilmu itu. Dia memberikan suatu posisi, bahwa ahli Education Sosiology harus benar – benar seorang ahli sosiologi yang menspesialisasikan pikiran dan penelitian – penelitiannya pada proses – proses pendidikan. Dengan demikian Education Sosiology merupakan ilmu pengetahuan murni, suatu cabang dari sosiologi” dikatakannya bahwa ia lebih suka pendekatannya memandang sisitem pendidikan sebagai sumber data yang dianalisis: bukannya sebagai sesuatu yang dianggap sebagaimana lazimnya dikonsepsikan dalam Education Sosiology.

PENDEKATAN INDIVIDU
Individu sebagi titik tolak atau dipengaruhi oleh dua macam factor yakni factor intern dan extern. Factor intern meliputifaktor – factor biologis dan psikologis sedangkan factor extern mencakup factor – factor lingkungan fisik dan ligkungan sosial.

1. Faktor Biologis pada tingakh laku manusia.
Perbedan antara factor biologis dan psikologis pada tingkah laku manusia adalah pada factor biologis memandang manusia itu sebagai organism yang murni dan sederhama, sedangkan pada factor psikologis memandang manusia itu sebagai organism yang intelligent, organism yang mempunyai inteligensi.
Tandanya factor – factor yang mempengaruhi perkebangan masyarakat ialah adanya kebebasan, fasilitas ekonomis, kemajuan kebudayaan, hubungan sosial yang luas dan keagamaan.

2. Faktor Psikologis pada Tingkah Laku Manusia
Pengaruh psikologis pada biologis semua berdifat semiphiolosphis dan abstrak. Misalnya pasa science of mind ) pengetahuan tentang proses berfikir tetapi sebaiknya ketika terbit buku Darwin, Origin Of Species pada tahun 1859 biologi berpengaruh besar pada psikologi. Misalnya dengan pesatnya studi tingkah laku hewan, maka jadilah pengetrapannya pada studi tentang manusia, yaitu tingkah laku manusia dijabarkan dengan tingkah laku hewan. Suatu contoh misalnya pada tingkah lalu insektual semut, burung, terdapatlah suatu tingkah laku yang sebagian besar dideterminir oleh instinct sesuatu yang tidak dipelajari, relative sifat sterotypis dan response otomatis pada situasi terutama.








PENDEKATAN SOSIAL

Cara lain untuk membahas tingkah laku manusia ialah dengan mempergunakan approach sosial, approach kelompok, societal approach, group approach, titik pangkal dari pada approach sosial adalah masyarakat dengan berbagai lembaganya, kelompok – kelompok dengan berbagai aktivitasnya, secara kongkret approach sosial ini membahas aspek – aspek atau komponen dari pada budayaan manusia.
Studi approach sosial ini mual – mula dilakukan pada kehidupanbinatang, misalnya jenis insekta semut atau burung.
Aguste Comte yang bisa disebut bapak sosiologi mempergunakan istilah sosiologi itu dalam seri kuliahnya pada tahun 187 danh kemudian dibutuhkan dalam Positive Philophy dalam buku ini Comte berusaha mengadakan pemandangan kembali terhadap tulisan – tulisan mengenai kehidupan manusia pada masa silam dan dalam bahagianya terdapatlah pengaruh pengetahuan baru dan pengetahuan historis pada konsepsi – konsepso dari pada hakikat manusia dan dia pakailah istilah sosiologi.
Menurut Woodworth, bahwa manusia di dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya selalu mengtalami 4 macam proses :
1. Individu dapat bertentangan dengan lingkungan
2. Individu dapat menggunakan lingkungan
3. Individu dapat berpartisipasi ( ikut serta ) dengan lingkungan
4. Individu dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan

Mengenai penyesuaian diri ini dapat kita kemukakan secara laus :
1. Penyesuaian diri yang berarti mengubah diri kita sesuai dengan lingkungan ( autoplasris )
2. Penyesuaian diri yang berarti mengubah lingkungan sesuai dengan kehendak kita ( alloplastis )

Dalam pelaksanaan interaksi social ini dapat dijalankan melalui :
a. Imitasi ( peniruan )
b. Sugesti ( memberi pengaruh )
c. Identifikasi
d. Simpati ( seperasaan )





PENDEKATAN INTERAKSI

Di dalam approach interaksional ini kita memperhatikan factor – factor individu dan sosial, di mana individu dan masyarakat saling mempengaruhi dan hubungan timbale balik antara individu dan masyarakat, ada hubungan interaksi antara individu dapat mempengaruhi inidvidu pengaruh – pengaruh yang berdifat dinamis dan kreatif.
Approach interaksional mengindahkan approach individu dengan factor – factor biologis dan psikologisnya pada tiap – tiap individu sebagai kekuatan potensial dan approach sosial mempunyai factor – factor yang memberikan kesempatan untuk dikembangkan kea rah kemanfaatan dalam tat hidup manusia di dalam masyarakat dan Negara.
Dengan adanya interaksi maka manusia dari lahirnya telah mempengaruhi tingkah laku orang – orang lainnya dan benda – bendadi dalam milieu sekitarnya dan sebaliknya tingkah laku orang- orang lain dan benda – beda mempengaruhi kepada bayi itu dalam pertumbuhan seterusnya.
Oleh karena itu situasi interaksi adalah situasi hubungan sosial, maka dapat dikatakan bahwa manusia itu memasyarakat diri, atau dengan perkataan lain manusia membudayakan diri dan memasyarakatan, pembudayaan ini tidak aka nada habis – habisnya sampai akhir zaman.
Kesimpulan pedekatan ini mengatakan bahwa mengetahui tingkah laku manusia harus dilihat diri individu masyarakat. Jadi aooroach dari pada education of sociology semata – mata individu atau social tetapi kedua-duanya.
Educational sociology adalah studi tentang interaksi individu dan lingkungan kulturalnya yang terkandung di dalamnya individu – individu lain, kelompok – kelompok sosial dan pola – pola tingkah laku, di mana seorang individu yang lahir selalu dipengaruhi orang dan kebudayaan di sekitanya.
Menurut E. George Pyne ( bapak sosiologi pendidikan endefinisikan : Educational sociology adalah ilmu pengetahuan yang menggambarkan dan menerangkan lembaga – lembaga kelompok sosial dan proses – proses soail. Dimana dalam hubungan itu individu memperoleh dan menyusun pengalaman 0- pengaamannya.
Hubungan sosiologi pendidikan dengan psikologi pendidikan :
Persamaannya :
Kedua – keduanya mencari jalan untuk menentukan dan memberikan arah terhadap efek sekolah bagi tingkah laku individu. Kedua ilmu itu tersebut merupakan alat untuk merealisaasi tercapainya tujuan pendidikan

Perbedaannya :
- Psikologi pendidiakn berhubungan dengan teknik bagi membentuk kebiasan – kebiasaan baru dalam diri anak.
- Sedangkan sosiologi pendidiakn tertarik perhatiannya di dalam implikasi – implikasi bagi permbuatan kurikulum –kurikulum, organisasi kelas dan metode – metode

Demikian menurut Zorbaugh
Sedang Pyne menggambarkan perbedaan tersebut sebagi berikut :
Psikologi pendidikan adalah suatu ilmu yang terpakai (applied science ) ilmu terutama sekali berhubungan dengan hukum – hukum dari ilmu jawa praktis untuk mencari, mengumpulkan dan mengevaluasi pengalaman – pengalaman atau masalah – masalah tentang belajar.
Sosiologi pendidikan ialah juga sebagai ilmu yang terpakai tetapi ilmu ini tidak berhubungan dengan metode pencarian / pengumpulan, pengalaman tetapi berhubungan dengan efek belajar atas kehidupan kelompok. Ilmu ini mecari untuk menerangkan bagaimana pendidikan sebagai suatu proses dapat di bawah kondisi – kondisi yang optimum menghasilkan kekurangan – kekurangan sosial dan mencoba bagi masyarakat yang ideal.

TEORI MEDAN
Membahas tiga macam approach terhadap tingkah laku manusia, baik manusia sebagai makhluk individu dan sosial dengan approach – approach individual, sosial dan interaksional, ada cara lain untuk meneliti tingkah laku manusia, dengan membahas medio sosiopsychis manusia, dengan membahas medan sosial manuisa.
Cara pembalasan ini terkenal dengan nama teori medan atau field theory yang diajarkan oleh Dr. Kurt Lewin dalam psikologi dan dikembangkan dalam psikologi sosial oleh J.F Brorown.
Inti dari pada teori mendan ini ialah meneliti struktur medan hidup ( life space ) beserta pribadinya, personnya, life space sosial atau medan sosial. Medan hisup ini merupakan kondisi – kondisi syarat – syarat dan situasi konkret yang menyertai gerak pribadi, gerak person tadi.
Cara berkerja teori medan itu mempergunakan metode pothetico deduktif ( hypothetic deductive method )
Selanjutnyauntuk menerntukan tingkah laku manusia di rumus sebagai berikut :
B = R ( PE ) di mana dalam manuisa ini terdapat simbul – simbul : B = Behavior ( tingkah Laku ) P = Person, manusianya E = Environment, milieu F = fungsi, sehingga rumus tadi harus dibaca : tingkah laku (B) adalah fungsi person (P) dan milieu (E) artinya bahwa tingkah laku manusia itu bergantung kepada pribadi (Person) dan lingkungan sekitarnya (Milieu)

WARISAN BUDAYA

1. Pengertian kebudayaan
Kebudayaan : Cultuur ( Bahasa Belanda ), Culture ( Bahasa Inggris ), berasal dari perkataan Latin “ Cuolere “ yang berarti mengolah, mengerjakan, menyuburkan, dan mengembangkan, terutama mengola tanah atau bertani. Dari segi arti ini berkembang arti culture sebagai “ sega;a daya dan aktivitet manusia untuk mengolah dan mengubah budi dan akal.
Dari sudut bhasa Indonesia, kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta “ Budhayah “ yaitu bentuk jamak dari buddhi yang berarti budi atau akal.
Kebudayaan secara keseluruhan adalah hasil usaha manusia untuk mencukupi semua kebutuhan hidupnya.
Jadi kebudayan itu mempunyai sifat kopleks, banyak seluk beluknya dan merupakan totalitas, merupakan keseluruhan meliputi pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hokum,cutom dan lain – lain kapabilitas dan kebijaksanaan – kebijaksaaan yang diperoleh oleh manusia di dalam masyarakat.pencipta kebudayaan adalah manusia, focus kebudayaan adalah masyarakat.
Jelasnya “ Kebudayaan “ adalah suatu hasil ciptaan dari pada hidup bersama yang berlangsung berabad – abad. Kebudayaan adalah suatu hasil dan hasil itu dengan sengaja atau tidak sesungguhnya ada dalam masyarakat.
Unsur – unsur atau bagian – bagian kebudayaan menurut Limton culture atau kebudayaan sebagai bagian besar dan umum secara totalitas, terbagi – bagi atas :
1. Cultural universal : misalnya mata pencarian, kesenian agama, ilmu pengetahuan , kekerabatan dan sebagainya.
2. Cultural Activitis : Kegiatan – kegiatan kebudayaan misalnya dari mata pencarian tadi terhadap pertanian, peternakan, perikanan, perindustrian, perdaganganmdan sebaginya
3. Traits Complexes adalah bagian – bagian dari cultural activities tadi
4. Traits adalah bagian – bagian dari traits complexes tadi
5. Items adalah bagian – bagian di dalam traits kebudayaan.



2. Manusia Makhluk Berkebudayaan
Istilah kebudayaan di sini sebenarnyakurang tepat seolah olah kebudayaan itu dapat ditinggalkan seperti membuka baju. Jafi tepatnya manusia itu berbudaya, dus manusia itu aktif menciptakan kebudayaan, manusia itu membudaya terus menerus dari sat manusia itu ada ( bayi lahir ) sampai dia meninggal dunia. Tetapi sebagian dari kebudayaan masih tetap ada, ialah yang berupa warisan kebudayaan.
Komponen – komponen kebudayaan itu adalah sebagi berikut :
1. Alam pikiran ideologis dan religio
2. Bahasa
3. Hubungan sosial
4. Hidup perekonomiannya
5. Ilmu pengetahuan dan teknologi
6. Keseniannya
7. Polik pemerintah
8. Pewarisan kebudayaan atau pendidikan

Pola tingkah laku kelompok ( mores adalah cara bertingkah laku dengan nada emosi yang dihubungkan dengan sikap benar atau salah. Sedangkan Institusi atau lembaga adalah pola tingkah laku telah terkait oleh kebudayaan atau pertimbangan yang spesipik )
Ciri – ciri dari pada kebudayaan adalah spesifik, khas atau karaktristik
( khas dari pada kebudayaan ialah komulatif, dinamis, disfertif) Hakikatnya adalah komulatif, merupakan tumpuk – tumpukkan, merupakan lapisan – lapisan atau stratifikasi.

3. Hakikat Sosial dari Pendidikan
Fungsi – fungsi dari pendidiakan :
1. Assimilasi dari tradisi – tradisi
2. Pengembangan dari pola – pola sosial yang baru
3. Kreatifita / peranan yang bersifat membangun di dalam pendidiakn

Menurut Brown, ada 3 pelaku pendidikan :
1. Lembaga – lembaga pendidikan formal
2. Kelompok – kelompok yang teroganisir yang mempunyai fungsi pendidikan yang penting
3. Organisasi – organisasi yang bersifat komersial dan industry

KELOMPOK SOSIAL

Di dalam memasuki suatu kelompok harus memenuhi syarat – syarat sebagai berikut :
1. Dia harus tunduk pada orang yang lebih tua ( senior )
2. Dia tidak boleh makan makanan tertentu
3. Dia tidak boleh mengganggu wanita – wanita milik orang lain
4. Dia harus menjaga rahasia, dan sebagainya

Bahkan pada suku lain : dia diberi pisau dan disuruh masuk ke hutan untuk hidup selama 1 tahun dan harus menghadapi tantangan – tantangan musim dingin dan musim panas
Sehingga dengan demikian individu – individu tersebut berkembang dan mempunyai dua fungsi :
1. Sebagai makhluk individual
2. Sebagai makhluk sosial

1. Klasifikasi Kelompok Sosial
Dari beberapa macam klasifikasi kelompok sosial antara lain yang dibahas dalam bab ini ialah sebagai berikut :
a. Willian G. Summer mengemukakan adanya in group atau we-group dan out-group atau others-group atau every body else. Di dalam in-group ada sosiasi kea rah mana tiap – tiap individu anggota kelompok kesetiaan dan solidaritas dan di situ terdapatlah usaha identifikasi pribadi satu sama lain kea rah adanya rasa persahabatan, kerja sama, rasa tanggung jawab, terutama di dalam saat – saat yang mendesak dan gawat.
b. Cooley mempergunakan dasar “ we and the group “ dari sumner yang mengemukakan adanaya jenis – jenis kelompok sosial – sosial primair, sekundair dan tertier atas dasar intimitas perasaan individu – individu atau kelompok – kelompok lainnya.
– Kelompok primair atau the primary group adalah suatu kelompok yang mempunyai rasa ikatan yang kuat dalam relasi intra group.
– Kelompok sekundair atau secondary group. Pada kelompok sekundair terdapat hubungan – hubungan yang kausalitas, artinya ada sebab – sebab tertentu yang menyebabkan terbentuklah kelompok sekundair, misalnya adanya ikatan interest.
– Kelompok tertier atau tertiey group. Pada kelompok tertier ini mempunyai sifat sementara atau incidental misalnya orang – orang yang bersama – sama naik bis, kereta api, nonton film, sepak bola dan sebagainya.

2. Relasi – Relasi Intergroup
Ada cara – cara lagi untuk memahami relasi – relasi intergroup, atau hubungan – hubungan inter kelompok, yaitu apa yang dinamakan jarak sosial atau social distance dan ethnosentrisme.
Jarak sosial itu ada dua macam yaitu jarak sosial- sosial vertical, ialah adanaya rasa perbedaan antara individu dan kelompok yang di dasarkan atas status.
Yang dimaksud jarak sosial horizontal ialah didasarkan atas sikap ontimitas atau raraf rasa kekamian ( degree of feeling ) “ rasa peka atau rasa erat keanggotaan kelompok, jarak sosial horizontal mana terdapat pada pribadi perseorangan atau pun bersifat sosial.

3. Fungsi Kelompok Sosial
Fungsi dari pada kelompok sosial dapat bersifat individu dan sosial. Fungsi individual dari pada kelompok ialah dalam tarap – tarap tertentu dapat memenuhi kebutuhan – kebutuhan individu, dimana individu – individu melalui kelompok dapat dimiliki pengetahuan – pengetahuan yang essensial, kecakapan, sikap yang penyesuaian dalam pengalaman – pengalaman pendewasaannya dalam kelompok yang lebih luas.

4. Dinamika Kelompok Sosial
Seperti telah didinggung – singgung dalam pembahasan lewat, bahwa masyarakat dan kebudayaan – kebudayaan manusia itu tumbuh dan berkembang terus menerus, jasi ada perubahan – perubahan kea rah kemajuan, jadi ada gerak, ada dinamika dari pada sosialnya. Perubahan – perubahan itu terjadi pada bentuk – bentuk dari pada folkways ( kebiasaan harian ), mores dan institusi, tetapi fungsinya tak berubah.

5. Peranan Keluarga Terhadap Perkembangan
Adapun faktor – faktor yagn sangat mempengaruhi perkembangan anak itu dikemukakan oleh para ahli sebagai berikut :
a. Status Sosial Ekonomi Keluarga
b. Faktor Kebutuhan Keluarga
c. Sikap Kebiasaan – kebiasaan Orang Tua

PROSES SOSIAL

1. Manusia sebagai makhluk Biososial
Manusia itu di lahirkan di dalam masyarakat mempunyai tat hidup dan penghidupan serta pola tingkah laku yang komplek. Untuk menganalisa betapa pengaruh kebudayaan kepada pertumbuhan dan perkembangan individu menjadi orang dewasa yang berpribadian sempurna atau integral, demikian juga betapa kekuatan – kekuatan kodarat atau faktor – faktor keturunan biologis pada manusiayang menjadi milik prinadi sebagai individualitas dapat menjamu kepribadian seseorang, kedua masalah itu akan dibahas dalam bab ini.

2. Interaction, Dasar Proses Sosial
Dengan kata lain : proses dua arah dimana setiap individu / group menstimulir yang lain dan mengubah tingkah laku dari pada partisipan.

3. Klasifikasi Interaksi Sosial
Klasifikasi interaksi sosial, anatara lain :
a. Yang melibatkan dalam sejumlah orang
b. Ada tingkat – tingkat keintiman
c. Ada yang berproses sosial

Termasuk dalam proses yang menyatakan (integrasi) ialah : Coperation ( Koperasi ), Consensus ( kerja sama ) dan Asimilation ( assimilasi ).
a. Coperation ( Koperasi )
Ada 3 jenis koperasi ( kerja sama ) yang didasarkan perbedaan di dalam organisasi group atau di dalam sikap group, yaitu :
- Kerja sama primer
Di sini group dan individu sungguh – sungguh dilebur menjadi satu
- Kerja sama sekunder
Apa bila kerja sama primer characteristic dan masyarakat primitive, maka kerja sama sekunder adalah khas pad masyarakat modern.
- Kerja sama tertiaer ( accommodation )
Dalam hal ini yang menjadi dasar kerja sama yaitu adalah konflik yang laten.
b. Consensus ( kerja sama )
Comsensus di maksudkan suatu persetujuan, baik yang diucapkan maupun tidak, di atas mana syarat – syarat kerja sama itu diletakkan.
c. Asimilation ( assimilasi )
Assimilasi adalah proses di mana berbagi – bagi kebudayaan melebur menjadi atu-satunya yang homogeny
4. Klasifikasi Interaksi Sosial
Konflik adalah usaha yang sengaja menentang, melawan atau memaksa kehendak orang lain. Di pandang dari segi terjadinya, maka konflik ini ada 2 macam, yaitu : Corparete Confluct dan Personal Conflict.

5. Kompetisi ( persaingan )
Persaingan adalah hubungannya dengan konflik, tetapi berbeda kompetisi tidak mengandung usaha dengan sengaja untuk menentang kehendak orang lain dan tidak mengandung paksaan.


TEMPAT – TEMPAT INTERAKSI ANTARA PERON DAN GROUP

1. Keluarga ( Family )
a. Fungsi Keluarga.
Menurut Oqbum fungsi keluarga itu adalah sebagai berikut : Fungsi kasih saying, fungsi ekonomi, fungsi pendidikan, fungsi per;indungan / penjagaan, fungsi rekreasi, fungsi ststus keluarga dan fungsi agama.
Menurut Bierstadt : keluarga berfungsi sebagai : Menggantikan keluarga, mengantur dan menguasai implus – implus sexui, menggerakkan nilai – nilai lkebudayaan dan menunjukkan status
b. Peranan Sosial dan Keluarga
Dikatakannya bahwa klas – klas sosial dapat dibedakan enjadi 3 macam, yaitu :
- Upper Class : dalam klas ini sikap terhadap anak adalah bangga dan menaruh penghargaan.
- Midle – Class : disini tidak diadakan menyelidikan
- Lower-Class : di sini keinginan – keinginan seperti upper-class itu kurang karena alas an – alas an.
2. Perbedaan Peer Group dengan orang Dewasa
a. Perbedaan Dasar : dalam dunia orang dewasa anak selalu di dalam posisi subordinate status ( ststus bawahan ) , dengan kata lain ststus dunis dewasa selalu di atas.
b. Perbedaan Pengaruh : pengaruh peer group ini makin lama makin penting fungsinya, jadi pengaruh keluarga makin kecil.
3. Fungsi – fungsi dari pada peer group
Peer Group adalah sebagai suatu wadah untuk sosialisasi. Menurut Havighurs peer group ini mempunyai 3 fungsi, yaitu : mengajarkan kebudayaan, mengajarkan mobilitas sosial dan membantu peranan sosial yang baru
4. Gang
Beberpa ketidak seimbangan akibat gang ialah
- Penyesuaian yang buruk di dalam kehidupan keluarga
- Kepadatan penduduk
- Kesulitan – kesulitan lain yang timbul dari isolasi cultural
- Ststis ekonomi rendah, kekurangan tempat untuk bermain
- Fasilitas – fasilitas sosial dan rekreasi yang lain
5. Sekolah Dalam Masyarakat
a. Pendidikan, penduduk dan kecenderungan ekonomi
1. Bersifat stabilisasi / stabilits : suatu sifat stabil, tidak meningalkan adanya perubahan ( revolusioner )
2. Bersifat Fluidity /fluiditas : pendidikan itu dimungkinkan adanya perubahan – perubahan, baik mengenai stabilitas atau riilnya, maupun fluisitas atau idealnya.
Menurut masalah penduduk ini, menurut Widarno Surachmat dapat dipecahkan dengan jalan :
- Transmigrasi : perpindahan penduduk dari suatu daerah ke daerah lain untuk menciptakan kemakmuran.
- Transplanetasi :perpindahan penduduk dari planet ke planet lain
- Teknologi makanan
- Keluarga berencana
b. Bentuk – bentuk Sekolah
- Bentuk sekolah tradisional.
- Bentuk sekolah sebagi suatu modal dari masyarakat
- Bentuk sekolah masyarakat
c. Sifat – sifat sekolah masyarakat
- Sekolah ini mengajarkan anak – anak untuk mendapatkan
- Sekolah ini melayani keseluruhan masyarakat
Kriteria sekolah masyarakat :
- Sekolah sebagai guru kehidupan masyarakat terhadap anak – anak
- Sekolah sebagai pusat kehidupan masyarakat dan tindakan untuk penduduk dari semua umur dan kelasmembantu fasilitas – fasilitas fisik untuk belajar dan berekreasi bagi semua umur di dalam masyarakat itu.
- Sekolah mempunyai program pendidikan orang dewasa
- Membawa orang – orang muda dan orang – orang dewasa bersama untuk bekerja atas masalah – masalah yang umum dari masyarakat
- Membawa para guru ke dalam kehidupan masyarakat sebagai teman, dan teman ini berkerja lebih dari pada seorang specialis.
6. Pro dan Kontra Masyarakat
Bagi yang pro : bahwa belajar pada local masyarakat akan menjadi masyarakat yang baik ( jadi titik berat pada masyarakat )
Bagi yang kontra : menurut pandangan ini masyarakat adalah demikian lompleksnya bagi anak untuk mempelajari secara intensif.
7. Bedanya Sekolah Masayakat dengan Sekoilah Tradisional
Pada prinsipnya baik sekolah masyarakat maupun sekolah tradisional merupakan pendirian yang dominan yang menguasai dalam masyarakat, sekolah adalah merupakan cermin dari pada masyarakat.
Mengapa sekolah Converhensip itu perlu didirikan ? dalam hal ini terdapat beberapa alas an : alasan isi pendidikan,alas an perkebangan anak didik, alas an pengunaan terbaik dari sumber, sumber insani, alas an demokrasi dan alas an efensiensi dan pembiayaan pendidikan.
Ada beberapa tipe organisasi internasional yang berkerja melampaui nasional, yaitu :
- Tipe yang pengurusannya orang – orang tua,
- Organisasi yang bersifat pribadi, artinya organiosasi yang bersifat swasta
- Tipe yang berdifat pemerintahan, bersifat resmi.

SOSIOLOGI KURIKULUM

1. Kurikulum dan masyarakat
a. Pendidikan dan Kehidupan
b. Kurikulum dan Sekolah
Kurikulum adalah situasi dan kondisi yang ada untuk mengubah sikap anak.
c. Pembagian Kurikulum
Di amerika terdapat 3 pembagian kurikulu :
- The classical curriculum : kurikulum yang bersifat tradisoinal, menekankan pada bahasa asing, bahasa kuno, sejarah kesusasteraan, matematika dn ilmu yang murni ( pure scince )
- The Vocation Curriculum : kurikulum yang pada prinsipnya menyiapkan mahasiswa untuk bekerja, dan dapat hidup layak di dalam masyarakat
- Life Adjustment Curriculum : kurikulum yang dititik beratkan untuk pembangunan kepribadian mahasiswa dan kegunaan sosial dari apa yang dipelajari dalam life experience curriculum ( kehidupan )


2. Sekolah Masyarakat ( community school )
a. Ciri – cirri sekolah masyarakat
Menurut Olsen cirri – cirri community scholl ialah sebagai berikut :
1. Sekolah itu memperbaiki untuk kehidupan setempat.
2. Sekolah itu menggunakan masyarakat laboratorium tempat belajar.
3. Gedung sekolah itu menjadi pusat kegiatan masyarakat
4. Sekolah itu mendasarkan kirukulum pada proses – proses dan problem – problema kehidupan masyarakat.
5. Sekolah itu mengikutsertakan orang tua dalam urusan – urusan sekolah.
6. Sekolah itu ikut serta mengkoordinasikan masyarakat
7. Sekolah itu dapat melaksanakan dan menyebarkan filsafatnegara dalam segala hubungan antar manusia
b. Education and Social Policy
c. Social Stability and Social Fluidity
3. Paradox – Paradox Kebijaksanaan
a. Akibat Perkembangan penduduk dan Ekonomi
b. Akibat dari pada Kenaikan Produksi
Pada prinsipnya angka kelahiran ini dipengaruhi oleh 2 faktor interaksi, yaitu : Produktivitas Ekonomi dan pengetahuan penduduk tentang pengendalian kelahiran ( birthcontrol )
c. Perbahan – perubahan di dalam Distribusi Pembagian Umur
d. Pendidikan kebijaksanaan Sosial
Beberapa tipe paradox secara internasional antara lain :
1. Welfare versus productivity = kesejahteraan atau produktivitas
2. Saving versus consumption = menabung atau konsumsi
3. Urban versus rutal sectors = kota atau desa
4. Kodern tehnology versus employment = teknologi modern atau tenaga kerja
5. Consumer goods versus producer goods = barang – barang yang bersifat konsumsi atau produksi / yang dihasilkan.
e. Educated Employment = Penganguran – pengangguran
f. Fungsi ganda dari pendidikan formil
Fungsi tersebut ialah :
1. Sekolah selalu memandang peranan dalam beberapa fungsi di dalam menyiapkan individu untuk mencari nafkah dan ikut serta struktur pekerjaan yang berkembang
2. Di mana – mana sekolah menolong memperkenalkan anak kepada kebudayaan masyarakatnya dan meliaskan partisipasinya dari batas local ke batas nasional, yang sangat penting di anatara gambaran yang dimungkinkan, dan pentingnya kemajuan teknologi menjadi satu tujuan yang menonjol.
3. Sekolah menciptakan individualitas
4. Sekolah behubungan dengan oekerjaan – pkerjaan lain, menyelesaikan mensenyalir elite-elite yang akan membawa teangung jawab yang terberat baik local maupun nasional (elite merupakan creative minority )
5. Akhirnya kebanyakan di sekolah direncanakan untuk mengabdikan dan memperbaiki system pendidikan itu sendiri untuk melindungi hal –hal yang telah ada dan mmeperkenalkan system inteketual yang baru
4. Perkembangan Kurikulum
Dalam sejarah perkembangan kurikulum, setelah abad ke-17, juga mulai menyebar kepada pembicaraan mengenai metode pengajaran. Sebagaimana diketahui, pada kurikulum tradisional, begitu mapannya metode tradisional, seperti dikte, menghafal dan meniru. Selanjutnya, berlangsung secara agak alamiah, dasarnya penekanan kepada buku – latihan dan penguasaan membaca buku / liferatur. Setelah berakhirnya reformasi, pada tahun 1832, terjadi kebutuhan yang meningkat terhadap sekolah bertipe komersial, di mana mata ajarannya dilengkapi dengan hal – hal yang jelas – jelas bermanfaat untuk usaha bisnis (disamping ilmu hitung, sejarah geografi, berbahasa inggris, dan ilmu fisika, juga diajarkan tata buku serta ilmu pengukuran / penelitian tanah.
Hal tersebut menunjukkan, bukan saja betapa luasnya kurikulum itu di dalam jumlah mata ajarannya, tetapi juga demikian luas aspek kegunaan sosial yang dicakupnya.

PROSES SOSIALISASI

Salah satu masalah yang menjadi pusat penelitian dan pengembangan sosilogi pendidikan ialah proses asosialisasi anak. Ada ahli – ahli sosiologi pendidikan yang berpendapat, bahwa proses sosialisasi merupakan satu-satunya obyek pemelitian sosiologi pendidkan.
Definisi tentang sosialisasi :
1. Havighurst dan Neugarten : proses sosialsisasi adalah proses belajar
2. Thomas Ford Hoult : bahwa proses sosialisasi adalah proses belajar individu dalam bertingkah laku sesuai dengan standard yang terdapat dalam kebudayaan masyarakat.
3. R.S. Lazarus : proses sosialisasi adalah proses akomodasi, dengan mana individu menghambat atau mengubah implus – implus sesuai dengan tekanan lingkungan, dan mengembangkan pola – pola dan tingkah laku yang baru sesuai dengan kebudayaan masyarakat.
4. G.H Mead berpendapat : bahwa dalam proses sosialisasi itu individu mengadopsi kebiasaan, sikap dan idea-idea dari orang lain, dan menyusunnya kembali sebagai suatu system dalam diri pribadinya.

Dari beberapa definisi tersebut diatas dapatlah ditarik kesimpulan bahwa :
1. Proses sosialisai adalah proses belajar
2. Dalam proses sosialisasi itu individu mempelajari kebiasaan sikap, idea – idea, pola - ploa nilai dan tingkah laku, dalam masyarakat di mana dia hidup
3. Semua sifat kecakapan yang dipelajari dalam proses sosialisasi itu disusun dan dikembangkan sebagai suatu kesatuan system dalam diri pribadinya.

Konsep Penyesuaian diri ( Adjustment )
Konsep penyesuaian diri ini berasal dari biologi, dan merupakan konsep dasar dalam teori evolusi Darwin. Dalam biologi, Istilah yang duigunakan ialah adaptasi. Menurut teori tersebut hanya organism yang berhasil menyesuaikan diri terhadap lingkungan fisiknya sajalah yang dapat tetap hidup.
Konsep adaptasi yang berasal dari biologi itu dalam ilmu – ilmu sosial ( khususnya psikologi ) diberi nama baru, adjustment baik adaptasi maupun adjustment kita terjemahkan dengan “ proses penyesuain diri terhadap lingkungan fisik maupun lingkungan sosial. Proses penyesuaian diri itu merupakan rekasi terhadap tuntutan – tuntutan terhadap dirinya. Tuntutan – tuntutan tersebut dapat digolongkan menjadi tuntutan unternal dan eksternal.
Tuntutan internal adalah tuntutan yang berupa dorongan atau kebutuhan yang timbul dalam, baik yang bersifat fisik maupun sosial.
Proses penyesuaian diri dapat di pandang dari dua sudut, yaitu :
1. Kualitas atau efesiensinya
2. Proses berlangsung

Ada dua tipe proses penyesuaian diri, yaitu :
1. Dalam rangka penyesuaian diri itu individu mengubah atau menahan implus – implus dalam dirinya
2. Dalam rangka penyesuaian diri itu individu mengubah tuntutan atau kondisi lingkungan dalam dirinya



Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Sosialisasi
a. Sifat daar : Merupakan keseluruhan potensi – potensi yang diwarisi oleh seseorang dari ayah dan ibunya.
b. Lingkungan prenatal : lingkungan dalam kandungan ibu
c. Perbedaan individu : individu mendapatkan pengaruh – pengaruh tidak langsung dari ibu. Pengaruh – pengaruh itu dapat di golongkan menjadi beberapa kategori, yaitu :
1. beberapa jenis penyakit
2. Gangguan endoktrin dapat mengakibatkan keterbelakangan mental dan emosional
3. Struktur tubuh ibu ( daerah panggul )
4. Shock pada sat kelahiran, luka pada saat kelahiran
Perbedaan perorangan merupakan slah satu factor mempengaruhi proses sosialisasi. Sejak saat di lahirkan anak tumbuh dan berkembang sebagai individu yang unik berbeda dari individu – individu yang lain.
Kenyataan menunjukkan, bahwa meskipun individu itu hidup dalam masyarakat dan dipengaruhi oleh kebudayaannya, namun dia tetap merupakan pribadi yang bersifat unik.
d. Motivasi : kekuatan – kekuatan dari dalam diri individu yang menggerakkan individu untuk berbuat. Motivasi ini dibedakan menjadi dorongan dan kebutuhan. Dorongan adalah keadaan ketidak seimbangan dalam diri individu, karena pengaruh dari dalam atau luar dirinya, yang mempengaruhi dan mengarahkan perbuatan inidivdu dalam rangka mencapai keseimbangan kembali atau adaptasi, pada manusia terdapat dorongan makan, minum, menghindarkan diri bahaya dan sebagainya. Kebutuhan adalah dorongan yang telah ditentukan secara personal, sosial dan cultural.

Dua Aspek Perkembangan Sosial Manusia
Perkembangan manusia tampak dalam dua aspek , yaitu :
1. Aspek biologic : makan, minum dan perlindungan telah mengubah bayi menjadi manuisa yang dewasa jasmaninya
2. Aspek personal sosial : pengalaman dan pengaruh manusia lain telah mengubah snak menjadi pribadi soaial, warga masyarakat bertanggung jawab.

Perkembangan sosia manusia itu mempunyai du aspek, yaitu :
a. Proses belajar sosial (process of learning) atau proses sosialisasi
b. Proses pembentukan kesetiaan sosial (formation of social loyalities)

Perkembangan Tingkah Laku Kelompok
Perkembangan sosial anak terjadi melaui interaksi sosial dengan orang – orang di sekitarnya, baik orang dewasa maupun temn sebaya. Terhadap pengaruh orang – orang dewasa, pada umunya anak bersifat patuh dan menerimanya dengan percaya.
Perkembangan selanjutnya ialah munculnya permaian kelompok yang lebih teratur. Fase ini merupakan perkebangan lebih lanjut dari pada fase – fase sebelumnya. Ciri pokok ada fase ini ialah kepatuhan kepada pimpinan pada permainan ini.
1. KELUARGA DAN SOSIALISASI
Munurut Brureau of the Census amirika serikat, kelauarga ialah “ a group of two or persons residing together who are related by blood, marriage or adoption “. Batasan yang pada hakikatnya sama dikemukakan oleh A.M. Rose. Menurut beliau “ a family is a group of interacting persons who recognize a relationship whit each other based on common parentage, marriage, and / or adoption “ menurut kedua batasan tersebut, kelaurga ialah “ kelompok sosial yang terdiri atas dua orang atau lebih yang mempunyai ikatan darah, perkawinan atau adopsi.
Francis E. Merrill “ in functional terms, the family may beviewed as an enduring relationship of parents and children that performs such funcations as the protection, rearing, and socialization of children and the providing of intimate responses between its members “
Dari beberapa definisi tersebut dapatlah dirumuskan pengetian keluarga, yaitu :
a. Keluarga merupakan kelompok sosial kecil yang umumnya terdiri atas ibu dan anak
b. Hubungan anta anggota keluarga dijiwai oleh suasana afeksi dan rasa tanggung jawab
c. Hubungan sosial di anatara anggota kelaurga relative tetap dan didasarkan atas ikatan darah, perkawinan dan atau adopsi
d. Fungsi kelaurga ialah memelihara, merawat dan melindungi anak dalam rangka sosialisasinya agar mereka mampu mengendalikan diri dan jiwa sosial.

Perubahan Fungsi Sosial Ekonomi Kelaurga
Dahulu kelarga merupakan kesatuan ekonomi dalam arti kesatuan proseksi dan konsumsi. Proses perubahan ekonomi pada masyarakat industry telah mengubah sifat keluarga, dari institusi pedesaan dan agrarian ke industry kekotaan dan industry. Dengan demikian peran anggota – anggota kelaura juga mengalami perubahan karenanya.

Perubahan masyarakat dapat mempengaruhi perubahan fungsi – fungsi sosial kelaurga . fungsi – fungsi sosial yang mengalami perubahan ialah :
1. Fungsi pendidikan
2. Fungsi rekreasi
3. Fungsi keagamaan
4. Fungsi perlindungan
Dengan hilangnya fungsi sosial keluarga, maka fungsi yang masih tetap melekat sebagai ciri hakiki keluarga ialah :
- Fungsi biologic
- Fungsi afektif
- Fungsi sosialisasi

Keluarga Sebagai Kelompok Primer
Sebagai kelompok primer , kelaurga berpengaruh terhadap anggota – anggotanya , karena :
1. Keluarga memberikan kesempatan yang unik kepada anggotanya untuk menyadari dan memperkuat nilai kepribadiannya
2. Keluarga mengatur dan menjadi perantara hubungan anggota – anggotanya dengan dunia luar. Dalam hubungan ini dapat di bedakan dua macam corak keluarga, yaitu :
- Keluarga terbuka : keluarga yang mendorong anggota – anggotanya untuk bergaul dengan masyarakat luas.
- Keluarga tertutup : keluarga yang menutup diri terhadap hubungan dengan dunia luar.

Sosialisasi Dalam Keluarga
Dari pembahasan di atas daptlah diketahui, bahwa keluarga merupakan institusi yagn paling penting pengaruhnya terhadap proses sosialsasi manusia.
Kondisi – kondisi yang menyebabkan pentingnya peranan keluarga dalam proses sosialisasi anak ialah :
1. Keluarga merupakan kelompok kecil yang anggota – anggotanya berinteraksi face –to-face secara tetap
2. Orang tua mempunyai motivasi yagn kuat untuk mendidik anak karena anak merupakan buah cinta kasih hubungan suami-istri
3. Karena hubungan sosial dalam keluarga itu bersifat relative tetap, maka orang tua memainkan peran sangat penting terhadap proses sosialisasi anak

Hubungan Orang Tua –Anak
Corak hubungan orang tua-anak sangat menentukan proses sosialisasi anak. Corak hubungan prang tua- anak ini, berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Fels Reseach institute, dapat dibedakan menjadi tiga pola , yaitu :
1. pola menerima-menolak, pola ini berdasarkan atas taraf kemesraan orang tua terhadap anak.
2. Pola memiliki-melepaskan, pola ini berdasarkan atas dasar sikap protektif orang tua terhadap anak
3. Pola demokrasi-otokrasi, pola ini berdasarkan atas taraf partisipasi anak dalam menentukan kegiatan- kegiatan dalam keluarga

2. SEKOLAH DAN SOSIALISASI
Fungsi pendidikan sekolah adalah memberantas kebodohan dan memberantas salah pengertian. Secara posotif, kedua fungsi tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut :
1. Menolong anak untuk melek huruf dan mengembangkan kemampuan – kemampuan intelektualnya.
2. Mengembangkan pengertian yang luas tentang manusia lain yang berbeda kebudayaan dan interestnya.

Transmisi Kebudayaan
1. transmisi pengetahuan dan keterampilan
2. transmisi sikap , nilai – nilai dan norma – norma

Memilih Dan Mengajarkan Peranan Social
Pertama
Masyarakat haruys mempunyai fasilitas untuk mengajarkan bermacam – macam spesialisasi itu. Masyarakat.
Masyarakat harus mengusahakan agar orang – orang yang mempunyai spesialisasi itu jumlahnya seimbang dengan kebutuhan

Integrasi Social
Untuk menjamin integrasi social itu, caranya ialah :
a. sekolah mengajarkan bahasa nasional, yaitu bahasa Indonesia
b. sekolah mengajarakan pengalaman – pengalaman yang sama kepada anak memalui keseragaman kurikulum dan buku – buku pelajaran dan buku bacaan dio sekolah.
c. Sekolah mengajarakan kepada anak corak kepribadian nasioanl(national identity) memalui pelajaran sejarah, dan geografi nasional, upacara – upacara bendera, peringatan hari besar nasional, lagu – lagu nasional dan sebagainya.

Perkembangan Kepribadian Anak
Sekolah tidak saja mengajarakan pengetahauan dan keterampilan yang bertujuan mempengaruhi perkembangan intelek anak, melainkan juga memperhatikan perkembangan jasmaninya melalui program olah raga dan kesehatan.

Kebudayaan Sekolah
Kebudayaan sekolah itu mempunyai beberapa unsure penting, yaitu :
1. Letak lingkungan dan prasarana fisik sekolah ( gedung sekolah, mebiler, perlengkapan yang lain ).
2. Kurikulum sekolah yang memuat gagasan – gagasan maupun fakta – fakta yang menjadi keseluruhan program pendidikan
3. Pribadi – pribadi yang merupakan warga sekolah yang terdiri atas siswa, guru, non teaching specialist dan tenaga asministrasi
4. Nilai – nilai nomal, system peraturan dan iklim kehisupan sekolah.

Pendidikan Sekolah
Mobilitas sosial ialah gerakan individu dari suatu posisi sosial ke posisi sosial lain dalam suatu struktur sosial. Kita membedakan dua macam mobilitas sosial, yaitu :
1. Mobilitas sosial vertikal : gerakan individu atau kelompok dalam ruang geografik ) migrasi )
2. Mobilitas sosial Horisontal : gerakan individu turun – naik dalam tangga ke masyarakat

3. KELOMPOK SEBAYA DAN SOSIALISASI
Kelompok – kelompok sebaya itu merupakan bagian dari generasi. Pengertian generasi dapat berarti :
1. Group of persons born eith in a specified periode of time
2. Descendants of a group of persons who themselves contstitute a generation cohort.

Jadi semua orang, yang lahir dalam suatu periode waktu tertentu mewujudkan suatu generasi. Generasi ini terdiri atas kelompok – kelompok sebaya dari berbagai tipe dengan berbagai macam fungdinya bagi anggotanya
Dari beberapa batasan tersebut di ats dapat dirumuskan sejumlah unsure pokok dalam pengeertian kelompok sebaya sebagai berikut :
1. Kelompok sebaya adalah kelompok primer yang hubungan antara anggotanya intim
2. Anggota kelompok sebaya terdiri atas sejumlah individu yang mempunyai kelompok sebaya usia dan status atau posisi sosial
3. Istilah kelompok sebaya dapat menunjuk kelompok anak – anak, kelompok remaja tau kelompok oarng dewasa.

Kelompok sosial mengajarkan mobilitas sosial. Meskipun kebanyakan kelompok sosial itu sendiri anak – anak yang mempunyai status sosial yagn sama, namun di dalam kelas atau dalam perkumpulan pemuda kerap kali terjadi pergaulan antara anak – anak dari klas sosial bawah bergaul akrab dengan anak – anak dari klas sosial menegah dan kelas sosial atas.
Menyadari besarnya peranan kelompok sosail dalam memberikan motivasi sosial ini banyak pendidik yang berpendirian sebaiknya sekolah menerima siswa yang hetrogin, artinya siswa – siswa yang berasal dari bermacam – macam klas sosial dan subculture yang lain.
Di dalam kelompok sebaya anak belajar patuh kepada aturan sosial yang impersonal ( impersonal ) “ rule of the game ) dan kewibawaan yang impersonal pula. Di dalam kelompok sebaya akan bersikap patuh terhadap aturan dan kewibawaan tanpa memandang dari siap aturan itu dan siap yang memberikan perintah san laangan itu “

Jenis – jenis Kelompok Sebaya
Ditinjau dari sifat organisasinya, kelompok sebaya dibedakan menjadi :
a. Kelompok sebaya bersifat informal
b. Kelompok sebaya yang bersifat formal

Academic adalah kelompok sebaya mahasiswa yang menonjol secara intelaktual, mengadakan identifikasi dengan dosennya, banyak menggunakan waktunya di perpustakaan dan laboratorium, dan telah merencanakan kelulusannya dan karier profesionalnya.
Non – cosformist. Kelompok sebaya ini terdiri atas beberapa macam tipe, yaitu secara intelektual agresif, yang mencari identitas dirinya dan suka memberotak.

NILAI – NILAI SOSIAL DAN PEMBANGUNAN MASYARAKAT
Apa yang dimaksud dengan pembangunan msyarakat sukar batasi, banyak pendapat yang dihubungkan dengan satu istilah, sehingga jadi kabur pendapat antra lain:
a. Pembangunan menuju teraf hidup yagn lebih baik, kesehatan yang lebih baik dan memperoleh pendidikan.
b. Lebih menekankan kepada masyarakat dari pada individu sebgai suatu kesatuan yagn di hadapi dan sebagai suatu alat yang dilalui untuk mendapat kemajuan
c. Masyarakat harus dirangsang dan di bantu untuk maju dengan usha dan isiatif sendiri
d. Terhadap rangkaian pendapat kadang ada yang lain :
- Bahwa hasil yang banyak dalam rangsang masyarakat untuk membangun taraf hidup yang lebih baik
- Bahwa apabila masyarakat dapat di dorong untuk serta dalam pembangunan dengan menyediakan secara seka rela tenaga bebas dan bahan dari bersumber tempat mereka sendiri

Pembangunan umum dua macam yang memecahkan trasisi yang harus kita ketahui :
1. Pemasukan pengaruh secara paksaan dalam segala hal
2. Rencana pembangunan secara kecil – kecilan.



MASYARAKAT DAN KEBUDAYAAN

A. Bentuk – Bentuk Kebudayaan
Para ahli sosiologi pada umumnya sependapat bahwa isi dari kebudayaan itu dapat menjadi duah buah unsure komponen yang nyata, yaitu komponen material dan non material.

1. Kebudayaan Materi
Bagian materi dari suatu kebudayaan itu meliputi segala sesuatu yang telah diciptakan dan digunakan oleh manusia dan mempunyai bentuk yang dapat dilihat dan diraba.
Eksistensi yang konkrit dari suatu produk buatan manusia, tanpa memandang apa pun juga ukuran, kerumitan pembuatan, yujuan ataupun nemtuknya, memberikan cirri kepada kebudayaan materi itu.

2. Kebudayaan Non Materi
Aspek non-materi dari kebudayaan itu merangkum semua buah karya manusia yang ia gunakan untuk menjelaskan serta dijadikan pedoman bagi tindakan – tindakannya, dan itu tak hanya dapat ditemukan di dalam pikirannya orang – orang.
Dikenal dua buah kategori dari kebudayaan non-materi itu :
a. Meliputi apa yang secara luas dapat didefinisikan sebagai norma – norma individu
b. Meluputi kelompok – kelompok norma – norma yang membentuk pranata sosial ( social institutions )

a. Norma – norma
Norma – norma itu dapat didefinisikan sebagai masyarakat, seperti misalnya bagaimana saranya berpakaian pada peristiwa – peristiwa tertentu atau bagaimana menegur atau menyapa orang – orang dari kelas – kelas yang berlainan.

b. Institusi – institusi
Institusi – institusi sosial pada hakikatnya kumpulan – kumpulan norma – norma ( struktur – struktur sosial ) yang telah diciptakan untuk dapat melaksanakan suatu fungsi dari masyarakat.

B. KOMPONEN – KOMPONEN STRUKTUR DARI KEBUDAYAAN
Komponen – komponen Struktur kebudayaan ialah suatu cara untuk meninjau isi atau susunan dari kebudayaan, yang mempunyai keuntungan – keuntungan analisa tertentu. Yang terutama ialah bahwa cara ini memberikan kemugkinan kepada orang itu untuk membuat daftar catalog dari tingkah laku yang konkrit yang mungkin menjadi ciri dari satu individu atau kelompok tertentu.

1. Elemen – elemen Kebudayaan ( Cultural Traits )
Unit terkecil dari kebudayaan yang dapat didentifikasir ( kenali ) disebut Istilah Elemen Kebudayaan.
Suatu elemen kebudayaan materi boleh jadi lebih mudah dikenali daripada suatu elemen kebudayaan non-materi. Contoh untuk yang pertama antara lain ialah benda – benda seperti bola sepak, pensil, dasi, lipstick atau ujung anak panah. Elemen kebudayaan non-materi antara lain ilah tindakan – tindakan serta praktek – praktek seperti aturan yang mengatakan bahwa gadis – gadis yang tinggal di asrama harus sudah masuk ke kamarnya pada jam 1.00 malam dll.

2. Kompleks Kebudayaan
Suatu kombinasi dari elemen – elemen yang saling berkaiatan yang membentuk persyaratan – persyaratan kebudayaan untuk situasi – situasi atau aktivitas – aktivitas tertentu ialah Kompleks Kebudayaan.

3. Pola Kebudayaan
Kopleks – kompleks kebudayaan juga salng berpadu untuk membentuk unit – unit yang luas dari kebudayaan. Unit – unit yang terkhir ini disebut dengan istilah Pola – pola atau konfigurasi – konfigurasi kebudayaan.

C. TIPE – TIPE PARTISIPASI KEBUDAYAAN
Para ahi ilmu sosial banyak berhutang budi kepada ahli antropologi bernama Linton berkat klasifikasinya yang baik atas tipe – tipe partisipasi kebudayaan sebagai berikut :
1. Partisipasi Menyeluruh ( universal ), adalah trait – trait kebudayaan yang diperlukan bagi seluruh anggota dari suatu masyarakat.
2. Partisipasi Pilihan ( alternatives ), adalah situasi – situasi di mana individu bisa memilih beberapa kemungkinan tindakan yang sama, atau hamper sama baiknya di mata masyarakat yang lebih besar.
3. Partisipasi Kekhususan ( speciality ), adalah aspek – aspek unik dari kebudayaan yang tidak diikuti oleh khalayak ramai secara umum

D. RELATIVISME KEBUDAYAAN
Standar – standar tingkah laku berhubungan dengan kebudayaan di mana standar – standar itu berlaku, yaitu suatu gejala yang di sebut dengan istilah Realivitas Kebudayaan. Relativitaskebudayaan menjelaskan apa sebabnya suatu perbuatan tertentu.
Sifat relative dari kebudayaan itu memberikan suatu penjelasan mengenai tingkah laku. Tiga dari perwujudan – perwujudan dan konsekuensi – konsekuensi tingkah laku sebagai akibat prasyarat – prasyarat yang ditentukan oleh kebudayaan itu aialah :
a. Fanatisme Suku bangsa ( Ethnosentrisme )
b. Goncangan Kebudayaan ( Cultural Shock )
c. Pertentangan Kebudayaan ( Culture Conflict )

1. Fanatisme Suku bangsa ( Ethnosentrisme )
Pengamatan yang arif, selagi bepergian dari negeri yang satu ke negeri yang lain, ia kana melihat bahwa hamper semua individu yang dijumpai akan menganggap bahwa kebudayaannya lebih baik atau lebih tinggi dari pada kebudayaan – kebudayaan lainnya dalam satu atau lain hal.

2. Goncangan Kebudayaan ( Culture Shock )
Istilah Culture Shock ini pertama – tama dipopulerkan oleh Kalervo Oberg. Ia menggunakan istilah ini untuk menyatakan apa yang ia sebut sebagai suatu penyakit jabatan dari orang – orang yang secara tiba – tiba dipindahkan ke dalam suatu kebudayaan yang berbeda dari kebudayaannya sendiri.
Oberg mengemukakan 4 tahapan yang membentuk sirkus Culture Shock bagi orang yang terjun di bidang karier ( sedang orang – orang yang lain dapat di duga akan mengikuti pola yang serupa ).
a. Tahapan Inkubasi ( kadang – kadang disebut tahapan bulan madu ), ialah tanpa waktu orang merasakannya sebagai suatu pengalaman baru yang menarik
b. Suatu perasaan dendam dan tahapan ini disebut tahapan Kritis.

3. Pertentangan Kebudayaan ( Culture Conflict )
Keyakinan – keyakinan yang berlainan sehubungan dengan system pemerinthan, praktek – praktek di bidang perekonomian kehidupan keluarga, dan pendidikan, kesemuanya itu merupakan factor – factor yang menimbulkan konflik kebudayaan.


MANUSIA DALAM MENGHADAPI MASA DEPAN

A. Arti Dan Tujuan Pendidikan ( Population Education )
Pendidikan kependudukan ( population education ) adalah istilah yang sangat popular dewasa ini , istilah ini berasal dari Prof. Sloan Wayland yang diucapkan kira – kira tujuh tahun yang lalu.
Rumusan atau definisi tentang pendidikan kependudukan cukup bnayk jumlah jenisnya, kebanyakkan definisi itu dinyatakan secara operasional untuk mencapai tujuan tertentu yang bersifat umum dan khusus dengan tekanan yang berbeda. Sifatnya instruksional dengan harapan bahwa anak didik itu kemudian dapat menarik kesimpulan dan mengambil keputusan yang rasional.
Menurut Seminar Nasional Pendidikan Kependudukan tahun 1970, pendidikan kependudukan dirumuskan sebagai berikut :
Pendidikan kependudukan adalah program pendidikan yang membina anak didik memiliki pengertian, kesadaran sikap dan tingkah laku yang bertanggung jawab tentang pengaruh perkembangan penduduk terhadap aspek – aspek kehidupan manuisa yang menyangkut segi – segi sosial, ekonomi, politik dan kebudayaan dalam lingkungan keluarga, masyarakat, Negara dan dunia .
Pendidikan Kependudukan di Ciloto tanggal 31 Agustus 1973 menjelaskan antara lain sebagai berikut :
Pendidikan Kependudukan merupakan satu usaha baru yang berhubungan dengan pembangunan Negara, khususnya dalam menanggulangi masalah kependudukan , terutama pertumbuhan penduduk yang berlangsung secara cepat dan perlu dikendalikan .
Pendidikan Kependudukan adalah suatu usaha yang mutlak dan perlu sebagai bagian dari pendidikan sekarang dengan maksud memberikan pengertian tentang kependudukan yang merupakansalah satu masalah dunia yang besar yang pengaruhnya terhadap perkembangan hidup kelak.

Tujuan Pendidikan Kependudukan
Tujuan umum pendidikan kependudukan adalah :
1. Agar anak didik memiliki pengertian dan kesadaran mengenai faktor – faktor yang menyebabkan perkembangan penduduk yang cepat serta interaksi yang erat antara perkembangan penduduk dengan program pembangunan untuk menaikkan tingkat hidup rakyat. Dapat diperinci menjadi
a. Memiliki pengertian tentang konsep – konsep dan proses dasar demografi.
b. Memiliki pengertian tentang pertambhan penduduk yang cepat dan sebab – sebabnya.
c. Memiliki pengertian tentang sebab akibat yang timbul ari pertumbuhan penduduk yang cepat
d. Memiliki pengertian tentang hubungan antara kesejahteraan manusia dengan program pembangunan ekonomi sosial
e. Memiliki pengertiandan keadaran tentang kebijaksanaan pemerintah menenai perncanaan dalam rangka pembangunan
f. Memiliki pengertian dan kesadaran tentang arti dan pentingya kesimbangan alam.

2. Agar anak didik memiliki pengertian dan kesadaran akan sebab akibat dari besar kecilnya keluarga tergadap situasi kehidupan dalam lingkungan keluarga dan masyarakat. Dapat diperinci menjadi :
a. Memiliki keadaran terhadap kenyataan bahwa besarnya keluarga dapat diatur dan bukan semata – mata ditentukan oleh nasib.
b. Memiiki sebab akibat dari keluarga besar.
c. Memiliki kesadaran terhadap standar kehidupan keluarga kecil sebagai yagn layak dan diinginkan serta hubungan antara besarnya keluarga dan kualitas kehidupan
d. Memiliki kesadaran terhadap hubungan antra memelihara kesehatan ibu, kesejahteraan anak dan kecilnya keluarga
e. Memiliki penghargan terhadap keluarga yagn kecil sebagai dasar untuk mencapai kualitas kehidupan masyarakat yang tinggi
f. Memiliki pengertian mengenai pengaruh buruk dari penduduk yang padat serta bertambah dengan pesat terhadap situasi sekelilingnya dan kesukaran – kesukaran yang ditimbulkannya.
g. Memiliki pengertian dan kesadaan terhadap kenyataan bahwa tindakan individu dapat mempengaruhi kehidupan masyarakat

3. Agar anak didik memiliki sikap yang rasional dan betanggung jawab dalam lingkungan kehidupan bangsa ( Negara dan dunia ), dapat diperinci menjadi :
“ memiliki sikap dan tingkah laku yang rasional dan bertanggung jawab terhadap program pemerintah mengenai kependudukan “

4. Agar anak didik memiliki sikap yagn rasional dan bertangung jawab dalam lingkungan kehidupan keluarga dan masyarakat. , dapat diperinci menjadi :
a. Memiliki sikap dan tingkah laku yang rasional dan bertanggung jawab terhadap besar kecilnya keluarga
b. Memiliki penghargaan dan sikap positif terhadap usaha - usaha pemeliharaan lingkungan jidup yang lebih sehat bagi keluarga dan masyarakat .

B. Pelaksanaan Pendidikan Kependudukan
Drs. J.W. Kandou mengemukakan bahwa dalam pelaksanaan pendidikan kependudukan sebagai suatu program untuk dilaksanakan, ada dua aspek yang perlu mendapat perhatian, yakni aspek pendidikan dan aspek kependudukan.
Tentang aspek kependudukan ia berpendapat bahwa hal itu menjadi tanggung jawab instansi tertentu ( dalam hal ini ialah BKKBN ). Sedangkan sebagai subject matter ( mata pelajaran ) materi itu diberikan kepada anak didik sebagai aspek pendidik, yakni sebagai suatu proses yang pelaksanaannya dipertanggung jawabkan kepada instansi – instansi lain ( departemen P dan K ).
Maka dalam hal ini dari Departemen P dan K dapat diharapkan sumbangannya dalam bidang tersebut di bawah ini :
a. Pendidikan di sekolah dasar = Family life education
b. Pendidikan di sekolah lanjutan = Scientific sex education dalam pelajaran – pelajaran biologi
c. Population Education :
- Aspek – aspek demografi
- Aspek – aspek ekonomi
- Aspek – aspek pembangunan
d. Education of the adult :
- Pendidikan di luar sekolah – sekolah formal
- Kepanduan
- Pendidikan kemasyarakatan dll
C. Hubungan Antara Kehidupan Keluarga Dan Kecerdasan Manusia
Pengalaman menunjukkan bahwa kemampuan seseorang untuk mengatasi atau memecahkan kesukaran itu ditentukan oleh kecerdasan seseorang. Makin cerdas seseorang, akan lebih mudah mengatasi kesukaran. Maka kecerdasan merupakan salah satu faktor penentu dalam menuju sukses atau kebahagian hidup. Begitu pula makin cerdas seseorang, maka cepat pula menangkap segala macam ilmu.
Banyak factor yang menentukan perkembangan hidup manusia. Faktor – faktor itu ialah :
1. Faktor keturunan. Yaitu faktor yang ada di dalam menusia itu sendiri
2. Faktor lingkungan, yaitu faktor yang ada di luar yang diperoleh sejak manusia dilahirkan hayatnya.

Faktor – faktor biologis dan psikologis dari ayah dan ibunya bagi anaknya menentukan kondisi dan kualitas “ bahan mentah “ atau “ bahan pakaian “ kepada anaknya.
Faktor yagn dating dari luar sejak manusia itu belum lahir hingga sepanjang hayatnya menentukan perkembangan anak – anak itu.

D. Hubungan Anatara Besar Keluarga Dan Test IQ
Ada hubungan antara rangsangan intelek dengan jumlah besarnya keluarga, makin banyak / besar keluarga, eminta perhatian ibu dan ayah lebih besar, di samping penyediaan fasiliras yang makin besar.
Tentang hal ini penyelidikan Tauran Dh.D mengungkapkan , bahwa :
“ Pada umumnya keluarga yang mempunyai banyak anak terdapat dalam tingakt sosio ekonomis yang rendah. Orang tua yang berasal dari tingkat sosio ekonomisnya yang tinggi dan menengah cenderung membatasi anak-anak mereka dengan jumlah yang relative kecil sehingga sanggup membelanjai pendidikannya sampai tingkat tinggi, orang tua yang berasal tingkat sosio ekonomis rendah biasanya tidak memperhitungkan faktor – faktor tersebut ketika menentukan jumlah anak yang mereka kehendaki. Sekali lagi pengaruh jumlah anak terutama kelihatan pada angka test inteligensi yang kurang dari normal. Angka inteligensi yang tinggi lebih sering terdapat di antara anak – anak tunggal atau yang hanya mempunyai satu atau dua saudara. Angka inteligensi rendah terdapat di antara mereka yang mempunyai empat saudara atau lebih.
Terima kasih banyak ya atas kesediaan Anda membaca artikel SOSIOLOGI PENDIDIKAN Drs. H. Abu Ahmadi dan anda bisa menemukan artikel SOSIOLOGI PENDIDIKAN Drs. H. Abu Ahmadi ini dengan url http://www.msuwito.blogspot.com/2010/06/sosiologi-pendidikan-drs-h-abu-ahmadi.html,anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel SOSIOLOGI PENDIDIKAN Drs. H. Abu Ahmadi ini dirasa bermanfaat bagi banyak orang. Namun, jangan lupa untuk meletakkan link SOSIOLOGI PENDIDIKAN Drs. H. Abu Ahmadi sebagai sumbernya.
Terima kasih banyak ya atas kesediaan Anda membaca artikel SOSIOLOGI PENDIDIKAN Drs. H. Abu Ahmadi dan anda bisa menemukan artikel SOSIOLOGI PENDIDIKAN Drs. H. Abu Ahmadi ini dengan url http://www.msuwito.blogspot.com/2010/06/sosiologi-pendidikan-drs-h-abu-ahmadi.html,anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel SOSIOLOGI PENDIDIKAN Drs. H. Abu Ahmadi ini dirasa bermanfaat bagi banyak orang. Namun, jangan lupa untuk meletakkan link SOSIOLOGI PENDIDIKAN Drs. H. Abu Ahmadi sebagai sumbernya.

0 komentar:

Poskan Komentar